Belum Pernah Serelate Ini Saat Membaca Sebuah Buku

Minggu, 12 April 2026

Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menjalankan kehidupan yang sangat baik oleh Allah.

Sesuai jadwal productive lazy dan janji ke diri sendiri kemarin untuk setidaknya membaca satu halaman buku, dan gua ngelakuin itu hari ini.

Buku yang gua baca berjudul "Tanpa Ayah, Tanpa Arah", gua baru beberapa bab dari buku ini hari ini dan poin-poin yang disampaikan secara tidak langsung susah dibantah karena menyertakan hasil penelitian dan data hasil survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga, termasuk lembaga pemerintah.

Buku ini gua beli dengan sadar kalau gua yang tumbuh tanpa seorang ayah, lebih tepatnya ayah gua meninggal sejak masih di kelas 5 sd, tetapi sebelumnya juga sakit cukup keras selama 2 tahun, jadi selama periode itu ibu gua yang bertanggung jawab terhadap anak-anak baik pendidikan, nafkah, dan biaya berobat ayah. Apakah ibu gua mengeluh? mungkin iya, tapi tampak tegar di hadapan anak-anaknya, beberapa hal yang menjadi poin krusial dalam kehidupan keluarga juga ada disini, kakak pertama lulus sma saat gua naik kelas 4 sd, sehingga tidak memungkinkan untuk lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi karena kendala finansial saat itu, kakak gua yang kedua lulus sma di tahun dan waktu berdekatan di hari ayah meninggal, sehingga secara fnansial, rasa kesal, bahkan mungkin rasa enggak enak ke kakak tertua jika dia lanjut ke pendidikan tinggi. Tapi gua mungkin lebih beruntung dari kedua kakak gua, dimana saat gua lulus sma, perekonomian keluarga sudah tidak separah saat kakak gua lulus, dan program pemerintah sudah menjangkau dan sampai ke telinga gua untuk bantuan pendidikan tinggi "Bidikmisi".

Dari buku ini gua banyak membaca banyaknya hasil penelitian yang menunjukkan kalau saat seorang anak bertumbuh tanpa kehadiran ayah (baik secara fisik, emosional, atau justru keduanya) hasilnya lebih condong ke arah negatif, sperti kriminalitas, kenakalan remaja, miras, narkoba, seks bebas, putus sekolah, nilai akademis yang kecil, tetapi bukan berarti semua anak seperti itu. Yang paling memukul gua adalah seringnya masalah percintaan yang sering gagal. Kalau melihat kedua kakak gua alhamdulillah tidak mengalami ini, tetapi sebagai seorang laki-laki pastinya punya beban ekspetasi yang lebih besar sendiri, dan sampai sekarang gua bingung apakah kedepannya gua bisa berhasil dalam percintaan? jika iya, bisakah gua menjadi sosok lelaki yang ideal? bisakah menjadi sosok pasangan atau suami yang mapan serta ideal? serta bagaimana cara mendidik anak kedepannya itu masih menjadi ketakutan sendiri yang belum berani diungkapkan ke keluarga.

Tapi satu hal yang pasti, mom i love you, adek sayang mama, tunggu adek sukses ya ma, adek juga lagi dalam kondisi quarter life crisis juga sekarang (maybe lowest point sekarang ini), tapi adek akan coba berusaha ya ma, untuk kedua kakak makasih udah support adek ya, mungkin adek bawel dan banyak mau, tapi semoga kedepanya rezeki adek nambah kak, ntar bisa bantu jajan buat ponakan-ponakan adek yang lucu itu.

This book really hit me, dan akan berusaha untuk gua selesaian baca buku ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal dari Sebuah Cerita Perjalanan Panjang

The Way to Found Out Ourself

Jum'atan Terakhir di Ramadhan 2026