The Way to Found Out Ourself

Judul Buku : Sang Alkemis

                                        (Photo Generated By Gemini AI, karena gua bukan designer)

Mungkin udah banyak yang udah bahas mengenai buku ini, tapi kali ini gua akan menyampaikan perspektif gua mengenai buku ini.

Buku ini berjudul Sang Alkemis (The Alchemist), buku fiksi yang ditulis oleh penulis terkenal Paulo Coelho. Buku ini menceritakan sosok seorang anak pengembala yang pinter banget bernama Santiago. Jadi Santiago ini awalnya seorang pengembala domba, yang dapet mimpi kalau dia nemu harta karun diantara piramida-piramida, ini awal mula perjalanan besar Santiago ini.

Kenapa gua tertarik bahas ini? Karena Santiago ini pengembara. Mirip kayak gua (atau mungkin kita semua) yang lagi 'merantau' di tempat yang mungkin baru banget ditemui serta sangat asing, Santiago meninggalkan segalanya, termasuk domba-dombanya, buku, serta mimpi untuk meminang anak saudagar cuma untuk nyari sesuatu yang dia pikir sangat berharga dalam hidupnya, harta karun Santiago. Harta karun gua? entah apa itu, mungkin karier, skill, atau financial freedom yang didambakan banyak gen z sekarang (termasuk gua), tapi sama seperti Santiago yang dengan modal kecerdasan, guapun rantau dengan modal nekat dan sedikit prinsip yang dibawa dari rumah.

Santiago pinter bukan karena dia sekolah tinggi, tapi karena dia peka sama pertanda (omen). Di dunia gua, ini mirip kayak kita belajar baca log server atau laporan keuangan. Nggak cuma liat angka, tapi paham apa yang lagi 'dibisikin' sama sistem itu ke kita.

Tapi perjalanan ini nggak gampang. Santiago harus belajar satu kata yang dalem banget: Maktub. Segala sesuatu sudah tertulis, tapi gimana cara kita menyikapinya? Itu yang bakal gua bedah lewat kacamata gua sendiri.

Part favorit gua di buku ini adalah saat Santiago bekerja di toko crystal, mungkin karena relate dengan kondisi gua sekarang yang lagi dalam proses menahan diri dalam mengambil tindakan, untuk menyiapkan segala hal yang akan dilakukan kedepannya, kalau Santiago kerjanya bersihin gelas crystal gua rapihin dan update config aplikasi, kalau Santiago berinovasi menjual teh di cangkir crystal, gua riset untuk implementasi tools baru, untuk pemilik toko crystal entah apa yang bisa gua komentarin, banyak pendapat mengatakan jangan terjebak di comfort zone, tetapi kenapa begitu? apa comfort zone itu? jika sudah susah ditemukan kenapa harus kelaur dari zona itu? mungkin ini karena gua blom nemuin comfort zone dalam hidup gua sendiri.

Setelah part itu selesai mulai konflik internal di pikiran Santiago, yang awalnya ingin pulang tetapi akhirnya mutusin buat nyari harta karun mimpinya, disini gua belajar kalau udah ngambil keputusan sebisa mungkin jangan berhenti di tengah jalan, berusahalah untuk gapai semaksimal mungkin, jadiin variable lain sebagai pendukung, sama sepertii di akhir cerita saat Santiago menemukan harta karunnya, dia juga mendapatkan pasangannya, menjadi sosok alkemis, dan menemukan dirinya sendiri. Gua nggak tau bakal jadi Alkemis atau cuma jadi tukang bersih-bersih gelas kristal selamanya, tapi yang penting jalan dulu aja, maktub kan?

Jadi sudah kepikiran apa itu maktub di dalam hidupmu? Sudah siapkah mencari tahu maktubmu? Siap hilang segalanya untuk mengejar mimpimu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal dari Sebuah Cerita Perjalanan Panjang

Jum'atan Terakhir di Ramadhan 2026