Begitukah Seorang Pria (Ayah)?

Senin, 27 April 2026

Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menjalani hari dan menjadi umatnya di hari ini.

Setelah berbagai kesibukan di weekend, hari ini gua ngejalanin hari sebagai pekerja pada umumnya, dimana gua kerja, dan dalam setiap kerjaan pasti ada bagian dalam belajar, ada bagian stuck, bagian untuk bertanya, bagian kerjaan yang hanya tinggal dikomunikasikan ke orang lain atau tim lain sebagai picnya sekarang, dan gua ngelakuin semua itu hari ini. Kalau disebutkan cukup banyak dan berat, tetapi udah menjadi keseharian untuk ngejalanin hal ini.

Dari kalimat pembuka entry kali ini, gua nyebutin masih diberi kesempatan buat jadi umat Allah swt, dan itu real setelah malam ini sempat ngelanjutin baca buku yang sempat terhenti beberapa hari. Kebetulan bab yang gua baca disini membahas perspektif agama dalam menjadi seorang ayah, tapi hanya dari 2 agama mayoritas di indonesia. Awalnya saat membaca part perspektif islam, gua rasa itu udah berat, karena idol dalam hampir yang disebutkan yakni nabi/rasul Allah dan pemimpin-pemimpin muslim yang punya iman serta kesadaran tinggi terhadap agama (gua malah jauh). Tapi setelah baca dari persfektif kristiani, bahkan role sebagai ayah menjadi jauh lebih berat, karena rolenya merupakan tuhan mereka sendiri, dan bahkan ada ayat yang merujuk sempurna sebagai ayah sebagaimana seperti tuhannya.

Terlepas yang gua percayain kalau tuhan umat kristiani merupakan salah satu utusan Allah di perspektif islam, tapi dibahasan kali ini membuat islam jauh lebih relevan dan fleksibel, karena seorang ayahpun tetap seorang manusia, dan setiap manusia tidak lepas dari namanya kesalahan. Tapi jika gua salah dalam menganalogikan ini, tolong dikoreksi dan enlighten me about this, please.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal dari Sebuah Cerita Perjalanan Panjang

The Way to Found Out Ourself

Jum'atan Terakhir di Ramadhan 2026